Tes Kejiwaan Bipolar

Tes kejiwaan merupakan kegiatan pemeriksaan untuk menentukan apakah pasien atau klien mempunyai permasalahan kejiwaan atau tidak. Pemeriksaan pada umumnya dilakukan oleh dokter spesialis jiwa (psikiater) dan psikolog.
Gangguan bipolar merupakan adanya gangguan mental/kejiwaan yang dicirikan oleh adanya emosi yang berubah sangat tajam/drastis. Seseorang yang mengidap bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat sedih).
Tes kejiwaan bipolar adalah suatu pemeriksaan terhadap kejiwaan pasien mengenai perubahan emosi yang berubah sangat dratis yang dilakukan oleh dokter spesialis jiwa dan psikolog.

Cara pemeriksaan tes kejiwaan yang benar

Apabila ingin mendapatkan pemeriksaan kejiwaan yang benar sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter spesialis dan psikolog. Seorang dokter dan psikolog akan melakukan pemeriksaan medis kejiwaan terhadap pasien dengan berbagai cara atau metode.
Tes yang paling sering digunakan untuk melakukan tes kejiwaan ini dengan wawancara dan observasi atau pengamatan terhadap pasien dan keluarga pasien.
Selain itu ada juga pemeriksaan tambahan lain yaitu tes darah atau urine. Tes tambahan ini juga akan dilakukan untuk mendukung atau mengonfirmasi diagnosis kejiwaan yang terjadi pada pasien atau klien.

Ciri-ciri Bipolar

Gangguan bipolar pada umumnya dicirikan dengan adanya perubahan emosi yang drastis, yaitu:

– Perubahan dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.

– Perubahan dari percaya diri menjadi pesimis.

– Perubahan dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.

Pada tiap fase emosi dapat terjadi dalam hitungan minggu bahkan bulan. Gangguan bipolar ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa saja melainkan bisa terjadi pada kaum anak-anak.

Penyebab Gangguan Bipolar

Penyebab yang pasti terjadinya gangguan bipolar belum dapat diketahui. Tetapi terdapat anggapan bahwa gangguan bipolar adalah efek dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berguna untuk menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan neurotransmitter ini diduga disebabkan karena beberapa faktor, yaitu: Genetik, Sosial, Lingkungan dan Fisik

Kapan Gangguan Bipolar dapat Didiagnosis?

Gangguan bipolar umumnya terjadi antara usia 16 dan 23 dan terus berlangsung sepanjang hidup. Tidak banyak terjadi kasus baru didiagnosis bipolar pada orang dewasa (lansia) di atas usia 66 tahun.

Keparahan gejalanya berbeda-beda setiap orang yang mengidap gangguan bipolar. Ada sebagian orang bisa tidak merasakan gejala yang berarti tetapi ada orang lain yang mengalami gejala berat sampai mengganggu kemampuannya dalam bekerja dan hidup normal.

Gangguan bipolar mempunyai tingkat kambuh yang cukup tinggi bila tidak segera diobati secara optimal. Pasien dengan bipolar mania berat pada umumny memerlukan rawat inap untuk menjaga pasien dari hal-hal melakukan perilaku yang berisiko. Pasien yang mengalami depresi berat juga perlu dirawat di rumah sakit. Hal ini dilakukan agar mereka tidak bertindak bunuh diri atau gejala psikotik (delusi, halusinasi, pemikiran yang tidak teratur).

Ada sekitar 90 persen orang gangguan bipolar tahap pertama merupakan bentuk yang lebih serius. Pasien akan mengalami setidaknya lebih kurang satu periode rawat inap karena keluhan psikiatris.

Pengobatan Gangguan Bipolar

Pada penanganan kasus gangguan bipolar ini dokter akan menyarankan penggunaan obat atau terapi khusus. Untuk menentukan cara penanganan yang tepat, pasien membutuhkan pemeriksaan secara langsung oleh dokter.

Gangguan bipolar yang tidak segera mendapat penanganan dapat menimbulkan terjadinya dampak lebih buruk bagi kehidupan penderitanya. Hal-hal yang dapat terjadi pada pasien adalah:

– Performa di sekolah atau tempat kerja menurun dan memburuk

– Kecanduan akan alkohol sampai penyalahgunaan NAPZA

– Hubungan sosial menjadi rusak baik itu dengan pasangan, teman/kerabat bahkan dengan orang lain

– Timbulnya masalah keuangan (finansial)

– Timbulnya rasa ingin bunuh diri